Jalur – jalur pada permukaan ban depan mempunyai bentuk yang berlainan dengan jalur – jalur pada ban belakang.
-Ban depan
Jalur – jalurnya relative sempit dengan cprak yang sesuai dan tepat untuk melayani pengendalian sepeda motor secara aman. Corak serupa ini disebut Rib pattern / corak rusuk.
-Ban Belakang
Karena roda belakang sebagai penyalur tenaga yang dihasilkan oleh mesin, maka untuk mengefisiensikan tenaga semaksimal mungkin dibentuklah corak dari jalur – jalurnya yang ketat terhadap permukaan jalanan. Corak serupa ini disebut Block pattern / corak berbungkal ( corak renggut ).
-Fungsi ban dalam
Di dalam ban dibutuhkan sejumlah udara yang dapat membantu menyerap getaran dari jalan. Sebagai wadah dari udara dipasang ban dalam lengkap dengan klep pemasukan udara (pentil).
Ban depan pola kembang rib patternBan belakang pola kembang block pattern
- Kode Ban
2.75 - 18 - 4 PR/42P100/90 – 18 – 56P
Keterangan :Keterangan :
2.75 = Lebar ban(inchi)100 = Lebar ban (mm)
18= Garis tengah lingkaran dalam ban ( inchi)90 = Perbandingan tinggi dan lebar ban
4 PR = Jumlah lapisan penguat18 = Garis tengah lingkaran dalam ban
42= Kode beban maksimum56 = Kode beban maksimum
P= Kode batas kecepatanP = Kode batas kecepatan
B.TUJUAN
Setelah selesai praktek siswa diharapkan dapat :
1.Melepas ban dari roda dengan urutan yang benar.
2.Mengetahui dan memahami konstruksi dan kede ban.
3.Mengetahui tekanan ban sesuai standar.
4.Memasang kembali ban dengan urutan yang benar.
C.ALAT DAN BAHAN
1.Satu unit mesin Yamaha F1Z R..
2.Tool box.Perbandingan tinggi dan lebar ban (dalam96)
3.Jugil Ban.
4.Kunci pentil.
5.Balok penyangga
6.Regulator tekanan ban..
7.Nampan
8.Kain majun
D.KESELAMATAN KERJA
1.Gunakan alat sesuai dengan fungsinya.
2.Hindari tindakan yang dapat mengganggu keselamatan kerja
3.Segera bersihkan tempat kerja jika terdapat oli yang tercecer.
4.Pastikan saat melepas ban depan balok penyangga terpasang kuat pada blok mesin.
E.LANGKAH KERJA
1.Siapkan alat, bahan dan obyek praktek.
2.Tempatkan sepeda motor di lantai yang rata dengan penyangga tengah.
3.Lepas roda depan dan roda belakang.
4.Untuk roda depan pasang balok penyangga agar bagian depan motor tidak turun ke tanah.
5.Bukalah pentil agar tekanan udara keluar.
6.Lepaslah ban dalam dari velg dengan jugil ban.
7.Buatlah sketsa ban depan dan belakang. Gambarlah pola ban dan tulis kode ban.
8.Setelah selesai pasang kembali ban dan pompa ban dengan tekanan angin sesuai standar.
9.Rapikan alat dan bersihkan tempat kerja.
10.Buatlah laporan sementara hasil praktek
F.TUGAS
1.Buatlah laporan lengkap mengenai konstruksi ban depan dan belakang!
2.Buatlah sketsa ban dan pola ban. Cantumkan kode dan keterangannya!
3.Apa pengaruh yang ditimbulkan jika menggunakan ban yang tidak standar !
KONSTRUKSI DAN MEKANISME DIFFERENSIAL PADA TOYOTA KIJANG KF 50 PROYEK AKHIR Disusun Dalam Rangka Menyelesaikan Studi Diploma III Untuk Mencapai Gelar Ahli Madya Disusun Oleh : Nama : Jati Arifianto NIM : 5250302542 Prodi : Teknik Mesin D III FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2006 ii LEMBAR PENGESAHAN Laporan Proyek Akhir, 2006, yang berjudul ‘’Konstruksi dan Mekanisme Differensial Pada Toyota Kijang KF 50’’ ini telah disetujui dan dipertahankan dihadapan Sidang Ujian pada : Hari : Tanggal : Dosen Pembimbing Drs. Sunyoto, M.Si NIP.131931835 Penguji II Penguji I Drs. Abdurrahman, M.Pd. Drs. Sunyoto, M.Si. NIP. 131476651 NIP. 131931835 Ketua Jurusan Ketua Program Studi D3 Drs. Pramono Drs. Wirawan Sumbodo, M.T NIP. 133474226 NIP: 131876223 Dekan, Prof. Dr. Soesanto NIP. 130875753 iii ABSTRAK Jati Arifianto. 2006. Konstruksi dan Mekanisme Differensial pada Toyota Kijang KF 50. Proyek Akhir. Teknik Mesin D III. Fakultas Teknik. Universitas Negeri Semarang. Perkembangan teknologi pada bidang otomotif khususnya pada mobil sangat pesat. Hal ini mendorong manusia untuk selalu belajar guna mengetahui lebih mendalam tentang sistem pemindah daya (power train) dan berdasarkan Proyek Akhir yang dibuat dalam pembuatan prototipe/alat peraga pemindah daya (power train) maka penulis mengambil judul ’’Konstruksi dan Mekanisme Differensial pada Toyota Kijang KF 50’’. Permasalahan yang diangkat dalam penulisan Proyek Akhir ini adalah ingin mengetahui konstruksi, mekanisme kerja, cara mengatasi gangguan dan cara memelihara differensial pada Toyota Kijang KF 50.. Komponen utama differensial pada Toyota Kijang adalah : drive pinion (pinion penggerak), differensial pinion shaft (poros pinion), side gear (roda gigi sisi), differensial (gigi pinion), ring gear (roda gigi cincin) dan differensial carrier, bantalan-bantalan, mur penyetel bantalan, perapat oli (oil seal) dan porosporos roda belakang. Prinsip kerja dari differensial pada Toyota Kijang adalah sebagai berikut : putaran poros engkol dari mesin melalui transmisi oleh propeller shaft diperkecil sesuai dengan tenaga yang diteruskan drive pinion ke ring gear, sebaliknya momennya bertambah dan arah transmisi berubah tegak lurus terhadap arah asalnya. Dua buah differensial pinion (gigi pinion) dan dua buah side gear (roda gigi sisi) diletakkan dalam differensial case menjadi satu dengan ring gear, sehingga bila differensial case berputar, differensial pinion yang terikat pada differensial case melalui differensial pinion shaft (poros pinion differensial) ikut berputar menyebabkan side gear (roda gigi sisi) juga berputar. Proses kerja differensial dapat terganggu jika terdapat gangguan operasional pada komponen differensial. Hal ini dapat diidentifikasi pemeriksaan kerusakan yang terjadi. Gangguan yang sering terjadi pada differensial biasanya disebabkan oleh komponen-komponen yang telah mengalami kerusakan antara lain : ring gear, drive pinion, side gear, pinion gear dan pinion shaft ring gear. Gigi hypoid bevel gear mempunyai kecepatan gelincir yang kuat, maka gunakanlah pelumas oli hypoid gear yang mempunyai viskositas yang cukup kekentalannya untuk membentuk lapisan minyak (oil film) dan mencegah kontak langsung antara metal. Jangan sampai terlambat dalam pemberian/penggantian minyak pelumas dalam differensial, sebab hal tersebut bisa mengakibatkan singgungan gigi yang keras dan akibatnya gigi akan aus serta posisi drive pinion dan ring gear akan berubah. iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : 1. Jalani dan yakini, jalan yang kamu anggap paling benar menurut hati nurani kamu. 2. Kegagalan adalah suatu keberhasilan yang tertunda dan merupakan awal dari suatu kesempatan. 3. Kemenangan hari ini bukan berarti kemenangan esok hari dan kegagalan hari ini bukan berarti kagagalan esok hari. 4. Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti dan janganlah kamu menangisi hari kemarin. PERSEMBAHAN : 1. Ayah dan Ibu tercinta yang selalu memberikan dukungan dan do’a. 2. Kakak dan Adikku tersayang. 3. Seseorang yang ada didalam hatiku. v KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, innayah serta karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Proyek Akhir dengan judul Konstruksi dan Mekanisme Differensial pada Toyota Kijang KF 50. Pembuatan Proyek Akhir ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi mahasiswa Diploma III guna mendapatkan tanda kelulusan dengan gelar Ahli Madya pada Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Selama pembuatan Proyek Akhir dan penyusunan laporan ini, penulis mendapat bimbingan dan petunjuk dari dosen pembimbing serta berbagai pihak yang terkait, maka dengan kesungguhan hati penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bp. Prof. Dr. Soesanto, Dekan Fakultas Teknik UNNES. 2. Bp. Drs. Pramono, Ketua Jurusan Teknik Mesin UNNES. 3. Bp. Drs. Sunyoto, M. Si, dosen pembimbing yang senantiasa memberi pengarahan dan petunjuk dalam penulisan Proyek Akhir. 4. Bp. Widi Widayat, S. Pd, dosen pembimbing lapangan yang telah memberi petunjuk dalam menyelesaikan prototipe power train. 5. Rekan-rekan mahasiswa D III Paralel A 2002, yang telah membantu dalam penyelesaian dan penyusunan Proyek Akhir ini. Penulis menyadari akan kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki dalam penyusunan laporan Proyek Akhir ini, maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan laporan ini. Penulis berharap vi semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca yang budiman pada umumnya. Semarang, Februari 2006 Penulis vii DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL........................................................................................ i LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. ii ABSTRAK....................................................................................................... iii MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................... iv KATA PENGANTAR ..................................................................................... v DAFTAR ISI.................................................................................................... vii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... x DAFTAR TABEL............................................................................................ xi DAFTAR LAMPIRAN.................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1 A. Latar Belakang Masalah............................................................. 1 B. Permasalahan.............................................................................. 2 C. Tujuan......................................................................................... 2 D. Manfaat....................................................................................... 3 E. Sistematika Laporan................................................................... 3 BAB II DESKRIPSI SISTEM DIFFERENSIAL .......................................... 5 A. Pemindah Daya .......................................................................... 5 1. Mesin Depan Penggerak Belakang....................................... 5 2. Mesin Depan Penggerak Depan ........................................... 6 3. Proses Pembuatan Alat Peraga ............................................. 7 4. Alat Yang Digunakan ........................................................... 7 viii 5. Bahan yang Digunakan......................................................... 8 6. Proses Pembuatan Alat Peraga ............................................. 9 7. Konstruksi Alat Peraga......................................................... 11 8. Cara Kerja Alat Peraga ......................................................... 11 B. Differensial................................................................................. 12 C. Konstruksi Differensial .............................................................. 13 1. Gigi Bevel ............................................................................. 16 2. Gigi Spiral Bevel .................................................................. 16 3. Gigi Hypoid Bevel ................................................................ 17 D. Mekanisme Differensial ............................................................. 18 1. Prinsip Dasar Unit Roda Gigi Differensial........................... 18 2. Prinsip Kerja Differensial..................................................... 19 E. Analisis Gangguan ..................................................................... 24 1. Ring Gear ............................................................................. 24 2. Drive Pinion ......................................................................... 25 3. Side Gear .............................................................................. 29 F. Pemeliharaan Differensial .......................................................... 30 1. Syarat-syarat Minyak Pelumas ............................................. 30 2. Klasifikasi Kekentalan.......................................................... 31 3. Klasifikasi Kualitas Dan Penggunaan .................................. 32 4. Pemeriksaan Dan Penggantian Minyak Pelumas ................. 33 BAB III PENUTUP ....................................................................................... 34 A. Simpulan..................................................................................... 34 ix B. Saran........................................................................................... 36 DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 37 LAMPIRAN..................................................................................................... 38 x DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1. Mesin Depan Penggerak Belakang .............................................. 6 Gambar 2. Konstruksi Alat Peraga................................................................. 10 Gambar 3. Differensial................................................................................... 13 Gambar 4. Konstruksi Differensial ................................................................ 15 Gambar 5. Gigi Bevel..................................................................................... 16 Gambar 6. Gigi Spiral Bevel .......................................................................... 17 Gambar 7. Gigi Hypoid Bevel ........................................................................ 18 Gambar 8. Rack Dan Shackle......................................................................... 19 Gambar 9. Differensial Saat Mengurangi Kecepatan .................................... 21 Gambar 10. Differensial Saat Kendaraan Berjalan Lurus................................ 21 Gambar 11. Differensial Saat Kendaraan Berbelok......................................... 22 Gambar 12. Posisi Pada Saat Kendaraan Berbelok.......................................... 23 Gambar 13. Hubungan Drive Pinion Dengan Ring Gear Yang Baik.............. 26 Gambar 14. Hubungan Gigi Berada Diujung Gigi .......................................... 27 Gambar 15. Hubungan Gigi Berada Pada Alas Gigi........................................ 27 Gambar 16. Hubungan Gigi Berada Didalam Ring ......................................... 28 Gambar 17. Hubungan Gigi Pada Ujung Luar Gigi......................................... 29 xi DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Alat Yang Digunakan ....................................................................... 8 Tabel 2. Bahan Yang Digunakan .................................................................... 9 Tabel 3. Klasifikasi Kualitas Penggunaan Oli ................................................ 32 xii DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1. Foto Prototipe Power Train ....................................................... 38 Lampiran 2. Surat Permohonan Dosen Pembimbing...................................... 40 Lampiran 3. Surat Penetapan Dosen Pembimbing Proyek Akhir ................... 41 Lampiran 4. Surat Pernyataan Selesai Bimbingan.......................................... 42 Lampiran 5. Surat Keterangan Telah Menyelesaikan Alat Peraga Proyek Akhir ........................................................................................... 43 Lampiran 6. Surat Tugas Panitia Proyek Akhir .............................................. 44 Lampiran 7. Surat Pernyataan Selesai Revisi ................................................. 45 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan negara industri dapat maju pesat karena dipengaruhi oleh adanya hasil teknologi yang tinggi dimana komponen-komponen mesin memiliki kualitas yang baik dan memenuhi standart, baik dari segi komponen maupun umur penggunaan yang tahan lama. Penemuan alat-alat modern dan otomatis membawa manusia ketingkat kenyamanan yang lebih tinggi. Dan perkembangan teknologi tersebut juga berpengaruh dalam bidang otomotif khususnya pada mesin, chasis, body, accessoris serta kelengkapan lainnya. Sebagai contoh kendaraan model dahulu dalam pengoperasiannya masih menggunakan manual, namun pada kendaraan model sekarang dalam pengoperasiannya sudah banyak yang menggunakan otomatis misalnya : sistem power window, sistem kelistrikan dan juga pada sistem pemindah daya (power train). Mekanisme pemindah daya pada kendaraan dibagi menjadi beberapa bagian antara lain : transmisi, kopling, propeller shaft, differensial, rear axle. Pemindah daya dari suatu mesin kendaraan, sering kita menggunakan elemen mesin yang berupa roda gigi, terutama untuk pemindahan daya yang besar dan memiliki kecepatan-kecepatan putar yang tinggi. Untuk memindahkan daya dari transmisi kendaraan yang melalui poros propeller shaft kemudian dihubungkan ketenaga dorong roda belakang maka digunakanlah differensial. 2 Dalam hal ini roda kanan dan roda kiri belakang kendaraan tidak selalu berputar dalam kecepatan yang sama, karena disebabkan oleh kondisi keadaan jalan, terutama disaat kendaraan akan berbelok. Yang dimana jarak tempuh atau turning radius roda bagian luar harus lebih besar dibandingkan turning radius roda bagian dalam sehingga roda bagian luar bergerak lebih cepat dari pada roda bagian dalam. Selain itu jarang roda-roda berputar pada putaran yang sama dijalan umum, sebab roda akan berhubungan dengan permukaan jalan yang berbeda-beda dan ditambah juga dengan adanya perbedaan tekanan pada ban atau terjadinya keausan pada ban dan roda. Hal ini menyebabkan kendaraan sulit untuk dikendalikan, maka penggunaan differensial sangat dibutuhkan dalam setiap komponen mesin kendaraan. B. Permasalahan Dalam pembahasan Proyek Akhir yang berjudul Konstruksi dan Mekanisme Differensial pada Toyota Kijang KF 50 diantaranya yaitu : 1. Bagaimana konstruksi dari differensial pada Toyota Kijang KF 50? 2. Bagaimana cara kerja differensial pada Toyota Kijang KF 50? 3. Bagaimana cara mengatasi gangguan differensial pada Toyota Kijang KF 50? 4. Bagaimana cara memelihara differensial pada Toyota Kijang KF 50? C. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai dalam pembuatan dan penyusunan Proyek Akhir ini yaitu : 3 1. Untuk mengetahui Konstruksi differensial pada Toyota Kijang KF 50. 2. Untuk mengetahui mekanisme kerja differensial pada Toyota Kijang KF 50. 3. Untuk mengetahui gangguan yang terjadi pada differensial Toyota Kijang KF 50. 4. Untuk mengetahui cara pemeliharaan differensial pada Toyota Kijang KF 50. D. Manfaat Manfaat yang dapat diperoleh dalam pembuatan dan penyusunan Proyek Akhir yang berjudul Konstruksi dan Mekanisme Differensial pada Toyota Kijang KF 50 adalah sebagai berikut : 1. Memberi pengetahuan bagaimana bentuk konstruksi differensial pada Toyota Kijang KF 50. 2. Memberi wawasan tentang cara kerja dari masing-masing komponen differensial pada Toyota Kijang KF 50. 3. Memberi pengetahuan untuk menganalisa gangguan yang sering terjadi pada differensial Toyota Kijang KF 50. 4. Memberi pengetahuan dalam merawat komponen differensial pada Toyota Kijang KF 50. 5. Kajian ini diharapkan memberikan pengetahuan yang lebih dibidang otomotif terutama pada differensial. E. Sistematika Laporan Dalam penulisan Proyek Akhir ini, penulis susun menjadi beberapa bagian bab antara lain : 4 1. Bagian pendahuluan dari laporan Proyek Akhir berisikan halaman judul, lembar pengesahan, abstrak, motto dan persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel dan daftar lampiran. 2. Bagian isi dari laporan Proyek Akhir terdiri dari tiga bab. Bab pendahuluan memuat penjelasan mengenai latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat dan sistematika laporan. Bab isi memuat penjelasan mengenai pemindah daya, differensial, konstruksi differensial, mekanisme differensial, analisis gangguan dan pemeliharaan differensial. Bab penutup memuat penjelasan mengenai simpulan dan saran dari Proyek Akhir. 3. Bagian akhir yang merupakan penutup dari laporan Proyek Akhir berisikan daftar pustaka dan lampiran. 5 BAB II DESKRIPSI SISTEM DIFFERENSIAL A. Pemindah Daya Guna memindahkan tenaga putar yang dihasilkan oleh mesin ke roda-roda diperlukan mekanisme pemindah daya. Mekanisme pemindah daya pada kendaraan/mobil terdiri dari kopling, transmisi, propeller shaft, differensial dan rear axle. Adapun pemindah daya yang sering digunakan pada kendaraan ada 4 jenis yaitu : 1. Mesin Depan Penggerak Belakang (Front Engine Rear Drive) 2. Mesin Depan Penggerak Depan (Front Engine Front Drive) 3. Mesin Belakang Penggerak Belakang (Mid Ship Engine Rear Drive) 4. Mesin Penggerak 4 Roda (Four Wheel Drive) Akan tetapi dari 4 jenis pemindah daya tersebut umumnya yang digunakan pada kendaraan adalah jenis mesin depan penggerak belakang dan mesin depan penggerak depan 1. Mesin Depan Penggerak Belakang Kebaikan dari mesin depan penggerak belakang adalah : a. Dapat memikul beban berat. b. Cocok digunakan pada kendaraan angkutan penumpang dan barang. Kelemahan dari mesin depan penggerak belakang adalah : a. Letak differensial-nya jauh dari mesin sehingga membutuhkan batang penghubung (propeller shaft). b. Gaya puntir propeller shaft lebih berat. 6 c. Cross joint cepat rusak/aus. d. Konstruksi chasis lebih tinggi. Gambar 1. Mesin Depan Penggerak Belakang Keterangan gambar : 1. Mesin (engine) 2. Kopling (clutch) 3. Transmisi 4. Propeller shaft 5. Rear axle 6. Differensial 7. Rear axle 1. Mesin depan penggerak depan Kebaikan dari mesin depan penggerak depan adalah : a. Letak differensial-nya menyatu dengan transmisi sehingga tidak memerlukan propeller shaft. b. Gaya putarnya lebih besar. 7 6 5 4 3 2 1 7 c. Ruang bagasi lebih luas. d. Konstruksi chasis lebih rendah. Kelemahan mesin depan penggerak depan adalah : a. Ban depan cepat aus. b. Digunakan pada kendaraan beban ringan Pada kesempatan ini penulis menitik beratkan pembahasan pada mesin depan penggerak belakang (front engine rear drive) pada Toyota Kijang KF 50. B. Proses Pembuatan Alat Peraga Pembuatan alat peraga media pembelajaran power train ini menggunakan bahan utama (transmisi dan differensial) sebagai alat peraga berupa komponen asli dari bagian mobil. Penggunaan bahan berupa komponen asli dari bagian mobil ini akan mempermudah dan mempercepat dalam proses pembuatan serta mempermudah dalam proses belajar dan mengajar karena langsung diterapkan pada kondisi yang sebenarnya. 1. Alat yang digunakan Peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan alat peraga media pembelajaran power train adalah sebagai berikut : 8 Tabel 1. Alat yang digunakan Alat Jumlah Kunci ring Kunci pas Obeng (+) Obeng (-) Tang Palu Mesin gerinda tangan Mesin bor Bor tangan Las listrik 220V 250A Gergaji besi Mistar Jangka sorong Mesin gerinda Amplas Kuas Kompresor Spray air gun Selang Kikir 1 set 1 set 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 buah 1 buah 1 buah 1 unit 1 buah 1 buah 1 unit 1 buah 1 buah 1 buah 2. Bahan yang digunakan Bahan yang digunakan dalam proses pembuatan alat peraga media pembelajaran sistem power train adalah sebagai berikut : 9 Tabel 2. Bahan yang digunakan Bahan Jumlah Transmisi manual 5 speed Mitsubishi L 300 Gardan assy Toyota Kijang Besi kanal (80) 9 meter Besi siku (5x5) 12 meter Roda 4’’ Elektroda 3.2 Engine mounting Universal joint Pipa besi d = 3 ½ ‘’ Mur, baut, dan ring Motor listrik ½ HP 1400 rpm Speed reducer size 50 ratio 1:20 Puli 3’’ Puli 2½ ’’ Galpanis V-belt size 31 V-belt size 37 Kabel listrik 6 meter Steker Saklar Kayu Ban dan pelek (ring 13) Cat dan tinner 1 unit 1 unit 1 buah 1 buah 4 buah 1 pack 4 buah 2 unit 1 buah 30 buah 1 unit 1 unit 2 buah 2 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 1 buah 2 buah 1 pasang 3 kaleng 3. Proses Pembuatan Alat Peraga Langkah-langkah pembuatan alat peraga media pembelajaran power train adalah sebagai berikut : 10 a. Membuat rangka stand bagian bawah (dasar) tempat roda-roda stand. b. Membuat dudukan plat untuk roda stand sebanyak 4 (empat) buah dan membuat lubang untuk tempat baut roda. c. Memasang keempat roda. d. Membuat stand panel (tempat saklar). e. Memasang plat/galpanis pada rangka panel (tempat saklar). f. Membuat dudukan penyangga transmisi bagian depan/input shaft serta membuat tempat baut untuk engine mounting pada bagian bawah penyangga transmisi. g. Membuat dudukan penyangga transmisi bagian belakang/output shaft serta membuat tempat baut untuk engine mounting pada bagian bawah penyangga transmisi. h. Membuat dudukan tempat penyangga gardan. i. Membuat lubang tempat baut untuk kayu peredam pada gardan. j. Menghaluskan bagian yang kasar pada seluruh konstruksi stand dengan gerinda tangan. k. Mengamplas seluruh bagian konstruksi stand. l. Mengecat seluruh konstruksi stand. m. Melubangi transmisi case hingga terlihat main shaft dan counter shaft, gigi overdrive. Melubangi differensial case hingga terlihat ring gear, side gear, dan pinion gear dari differensial. n. Mengecat transmisi case, gardan, dan teromol rem. o. Memasang transmisi, gardan dan dirangkai pada konstruksi stand. 11 4. Kontruksi Alat Peraga Gambar 2. Konstruksi Alat Peraga 5. Cara Kerja Alat Peraga Cara kerja dari alat peraga media pembelajaran power train yang dijadikan sebagai penggerak utamanya adalah sebuah motor listrik ½ HP 1400 rpm yang direduksi terlebih dahulu oleh speed reducer size 50 dengan ratio 1:20. Media penghubung antara motor listrik dengan speed reducer menggunakan V-belt ukuran 31 dengan puli Ø 2½” yang terpasang pada poros motor listrik dan puli Ø 3” yang terpasang pada poros speed reducer. V-belt ukuran 37 untuk penghubung antara speed reducer ke input shaft dengan menggunakan puli Ø 2½” yang terpasang pada poros speed reducer dan puli Ø 3” yang terpasang pada poros input shaft. 12 C. Differensial Differensial adalah salah satu bagian dari mekanisme pemindah daya yang bertugas untuk memindahkan tenaga putar dari propeller shaft ke poros roda belakang (rear axle) dan untuk memungkinkan adanya perbedaan putaran antara roda kiri dan roda kanan belakang saat membelok, baik berbelok kekiri maupun kekanan. Dalam hal ini roda kanan dan roda kiri belakang kendaraan tidak selalu berputar dalam kecepatan yang sama, karena disebabkan oleh kondisi keadaan jalan, terutama disaat kendaraan akan berbelok. Yang dimana jarak tempuh atau turning radius roda bagian luar harus lebih besar dibandingkan turning radius roda bagian dalam sehingga roda bagian luar bergerak lebih cepat dari pada roda bagian dalam. Selain itu jarang roda-roda berputar pada putaran yang sama dijalan umum, sebab roda akan berhubungan dengan permukaan jalan yang berbeda-beda dan ditambah juga dengan adanya perbedaan tekanan pada ban atau terjadinya keausan pada ban dan roda. Hal ini menyebabkan kendaraan sulit untuk dikendalikan, maka penggunaan differensial sangat dibutuhkan dalam setiap komponen mesin kendaraan. 13 Gambar 3. Differensial Keterangan gambar : 1. Flens companion dibautkan pada sambungan universal pada poros propeller. 2. Gigi pinion penggerak meneruskan tenaga mesin ke gigi ring gear dan merubah arah tenaga 900 untuk menggerakan poros as belakang. 3. Ring gear (roda gigi ring) yang mempunyai gigi banyak berputar lebih lambat dari pada gigi pinion penggerak untuk pengurangan terakhir. 4. Roda gigi pinion berputar bersama ring gear untuk membagi tenaga penggerak poros as belakang bagian kiri dan kanan dengan kecepatan berlainan sewaktu kendaraan membelok. 5. Side gear menggerakan poros as belakang untuk memutar roda. 6. Rumah poros belakang. 7. Poros belakang. 8. Pembias oli memperkecil daya pindah pelumas kearah roda luar jika kendaraan membelok tajam. D. Konstruksi Differensial Differensial terdiri dari komponen-komponen sebagai berikut : drive pinion (pinion penggerak), differensial pinion shaft (poros pinion), side gear 4 5 8 2 7 6 5 1 3 14 (roda gigi sisi), differensial (gigi pinion), ring gear (roda gigi cincin), differensial carrier, bantalan-bantalan, mur penyetel bantalan, perapat oli (oil seal), dan poros-poros roda belakang. Pinion penggerak dijamin didalam differensial carrier oleh dua buah bantalan (bearing), pada bagian ujung-ujung luar pinion penggerak terdapat alur untuk berkaitan dengan propeller shaft dan universal joint yoke, bagian yang bergigi berkaitan dengan ring gear. Ring gear diikat dengan baut pada differensial case dan berputar bersama dengan bantalan (bearing), pinion shaft (poros pinion) ditempatkan dibagian tengah differensial case sejajar dengan ring gear dan dipasang sedemikian rupa sehingga kedua gigi differensial pinion yang terpasang pada ujung-ujung porosnya dapat berputar dengan poros. Bagian dalam differensial case pada kedua ujung terdapat dua buah roda gigi differensial side gear yang berkaitan dengan roda gigi pinion, sedangkan pada bagian dalam side gear terdapat alur (spline) untuk perkaitan dengan poros-poros roda belakang (rear axle shaft) untuk memungkinkan roda-roda gigi dapat berputar bersamasama dengan porosnya. 15 Gambar 4. Konstruksi Differensial. Keterangan Gambar : 1. Baut 2. Mur pengunci 3. Plat penekan 4. Paking 5. Bantalan roda belakang 6. Penahan bantalan roda 7. Sil minyak 8. Baut 9. Rumah poros belakang 10. Sumbat lubang pengeluar 11. Sumbat vent 12. Baut dudukan 13. Paking 14. Roda gigi cincin 15. Mangkok bantalan 16. Bantalan samping differensial 17. Pen pengunci 18. Bak differensial 19. Poros pinion 20. Cincin tekan 21. Roda gigi pinion differensial 22. Roda gigi samping differensial 23. Cincin tekan 24. Roda gigi pinion differensial 25. Cincin tekan 26. Bak differensial 27. Baut 28. Bantalan samping differensial 29. Mangkok bantalan 30. Mur penyetel 31. Mur penyetel 32. Pengunci 33. Baut 34. Baut 35. Sumbat lubang pengisi 36. Mur pengunci 37. Pembawa 38. Plat ganjal 39. Sil minyak ‘o’ 40. Bantalan pengarah 41. Penahan pinion 42. Roda gigi pinion pemutar 43. Bantalan 44. Tutup bantalan belakang 45. Penahan pinion pemutar 46. Baut 47. Cincin perantara 48. Tutup bantalan depan 49. Bantalan depan 50. Pembalik minyak 51. Sil minyak pinion pemutar 52. Deflektor 53. Flens 54. Cincin 55. Mur 16 Hal yang paling utama pada mekanik differensial adalah perkaitan antara drive pinion dengan ring gear. Perkaitan antara gigi-gigi drive pinion dengan gigigigi ring gear dinamakan bevel gear. Adapun bevel gear pada differensial ada 3 macam yaitu : 1. Gigi Bevel Perkaitan antara drive pinion dengan ring gear terjadi pada garis pusat pinion berimpit dengan garis pusat ring gear. Konstruksi bevel gear ini mempunyai bentuk gigi yang lurus, sehingga perkaitan antara kedua gigi terdapat celah. Oleh sebab itu putaran yang dihasilkan menjadi tidak halus oleh karenanya model gigi bevel jarang digunakan pada kendaraan. Ganbar 5. Gigi Bevel 2. Gigi Spiral Bevel Perkaitan antara drive pinion dengan ring gear terjadi pada garis pusat pinion yang berimpit dengan garis pusat ring gear tanpa ada celah antar kedua gigi. Hal ini dimungkinkan karena konstruksi bevel gear ini berbentuk spiral, sehingga bunyi dan getaran yang timbul sangat kecil dan momen dipindahkan dengan lembut. Model gigi spiral bevel ini dipasang pada kendaraan penggerak 17 roda depan tetapi konstruksi bevel gear ini sangat mahal karena pembuatannya memerlukan pekerjaan yang halus dan teliti. Gambar 6. Gigi Spiral Bevel 3. Gigi Hypoid Bevel Perkaitan antara drive pinion dengan ring gear terjadi dibawah garis pusat ring gear. Perkaitan antara keduanya tersebut tanpa ada celah karena konstruksinya berbentuk spiral. Model gigi hypoid bevel ini banyak digunakan pada kendaraan-kendaraan jenis sekarang termasuk pada differensial Toyota Kijang KF 50, karena mempunyai beberapa kelebihan dibanding model lainnya antara lain yaitu : a. Putaran yang dihasilkan lebih halus. b. Lebih kompak dan lebih kuat. c. Pemakaiannya lebih praktis. d. Propeller shaft dapat diperendah tanpa mengurangi jarak minimum ke tanah. e. Ruang penumpang lebih besar/lebar. Tetapi karena gigi tipe hypoid mempunyai sifat kerja seperti menyapu sehingga gesekan yang ditimbulkan lebih besar, oleh karenanya diperlukan 18 minyak pelumas khusus dengan viskositas tinggi untuk mencegah gigi menjadi panas. Gambar 7. Gigi Hypoid Bevel E. Mekanisme Differensial 1. Prinsip Dasar Unit Roda Gigi Differensial Prinsip dasar unit roda gigi differensial dapat dipahami dengan menggunakan peralatan yang terdiri dari roda gigi pinion dan dua rack. Kedua rack dapat mengelincir pada arah vertikal sejauh berat rack dan tahanan gelincir akan terangkat bersamaan. Gigi pinion diletakan diantara rack, kemudian gigi pinion dihubungkan pada alat penyangga dan dapat digerakan oleh alat penyangga tersebut. Bila beban W yang sama diletakan pada setiap rack kemudian alat penyangga (shackle) ditarik keatas maka kedua rack akan terangkat pada jarak yang sama, hal ini akan mencegah agar gigi pinion tidak berputar. Tetapi bila beban yang lebih besar diletakan pada rack sebelah kiri dan penyangga ditarik keatas maka pinion akan berputar sepanjang gigi rack yang mendapat beban lebih berat, yang disebabkan adanya perbedaan tahanan yang diberikan pada gigi pinion, sehingga beban yang lebih kecil akan terangkat. Jarak 19 rack yang terangkat sebanding dengan jumlah putaran gigi pinion. Dengan kata lain bahwa rack mendapat tahanan yang lebih besar tidak bergerak dan sementara tahanan yang mendapat beban lebih kecil akan bergerak. Prinsip ini digunakan pada perencanaan roda-roda gigi differensial. Gambar 8. Rack Dan Shackle 2. Prinsip Kerja Differensial Putaran poros engkol dari mesin melalui transmisi oleh propeller shaft diperkecil sesuai dengan tenaga yang diteruskan drive pinion ke ring gear, sebaliknya momennya bertambah dan arah transmisi berubah tegak lurus terhadap arah asalnya. Dua buah differensial pinion (gigi pinion) dan dua buah side gear (roda gigi sisi) diletakkan dalam differensial case menjadi satu dengan ring gear, sehingga bila differensial case berputar, differensial pinion yang terikat pada differensial case melalui differensial pinion shaft (poros pinion differensial) ikut berputar menyebabkan side gear (roda gigi sisi) juga berputar. Side gear Beban Berbeda Beban Sama Shackle Larger Weight Pinion Smaller Weight Rack 20 dihubungkan ke poros roda belakang dan memindahkan tenaga putar ke rodaroda. Putaran poros menjadi rendah karena tenaga putar propeller shaft telah direduksi oleh drive pinion yang berkaitan dengan ring gear yang konstruksi giginya lebih banyak. Adapun perbandingan reduksi kecepatan differensial dapat dirumuskan sebagai berikut : Putaran propeller shaft/menit Putaran poros roda belakang/menit Jumlah gigi ring gear Jumlah gigi drive pinion Adapun tujuan mereduksi kecepatan adalah untuk memperbesar momen puntir sehingga gaya putarnya menjadi besar dan mampu mengangkat beban berat. Adapun cara kerja differensial dapat dibagi menjadi 4 bagian menurut fungsinya, yaitu : a. Differensial pada saat kendaraan mengurangi kecepatan Apabila propeller shaft berputar, drive pinion juga ikut berputar dan memutarkan ring gear, karena drive pinion berkaitan dengan ring gear. Differensial case tempat pemasangan ring gear juga ikut berputar dan putarannya dipindahkan ke poros-poros roda belakang melalui side gear. Dalam keadaan demikian putaran propeller shaft direduksi oleh ring gear yang jumlah giginya lebih banyak daripada gigi drive pinion yang berkaitan dengan ring gear, sehingga putaran poros-poros roda belakang kecepatannya menjadi kecil. Kecepatan reduksi = = 21 Gambar 9. Differensial Saat Mengurangi Kecepatan b. Differensial pada saat kendaraan berjalan lurus Tekanan gelinding pada kedua roda penggerak hampir sama pada saat kendaraan bergerak lurus di jalan yang datar. Kedua side gear berputar sebanding dengan putaran differensial pinion dan semua komponen berputar dalam satu unit. Bila tekanan kedua poros roda belakang sama maka differensial pinion tidak berputar sendiri tetapi berputar bersama dengan ring gear. Dengan demikian differensial pinion hanya berfungsi sebagai penghubung side gear kanan dan side gear kiri, sehingga kedua side gear berputar dalam satu unit dengan putaran differensial pinion yang menyebabkan kedua poros roda berputar pada kecepatan yang sama. Gambar 10. Differensial Saat Kendaraan Berjalan Lurus Drive Pinion Differensial case Differensial Pinion Shaft Side Gear Ring Gear Differensial Pinion A B Ring Gear Drive Pinion Differensial Case Side Gear Differensial Pinion Rpm A = B Whell Keterangan : Jumlah gigi ring gear : 41 Jumlah gigi side gear : 16 Jumlah gigi pinion : 10 22 c. Differensial pada saat kendaraan berbelok Pada saat kendaraan berbelok kekanan, jarak tempuh roda kiri lebih panjang daripada jarak tempuh roda kanan bila dibandingkan pada saat kendaraan berjalan lurus. Pada saat ini side gear bagian kanan tertahan tiap pinion differensial berputar melalui shaft-nya masing-masing dan juga bergerak mengelilingi axle shaft belakang, akibatnya putaran side gear bagian kiri bertambah cepat. Sebaliknya pada saat kendaraan berbelok kekiri, jarak tempuh roda kanan lebih jauh dari pada jarak tempuh roda kiri bila dibandingkan pada saat kendaraan berjalan lurus. Pada saat kendaraan berbelok kekiri, side gear bagian kiri tertahan dan tiap pinion differensial berputar melalui shaf-tnya masing-masing serta bergerak mengelilingi axle shaft belakang, akibatnya putaran side gear bagian kanan bertambah cepat. Gambar 11. Differensial Pada Saat Kendaraan Berbelok Rpm Rendah (Tahanan Besar) A B Rpm A = B Differensial Pinion Ring Gear Drive Pinion Differensial Case Side Gear 23 Gambar 12. Posisi Pada Saat Kendaraan Berbelok d. Differensial pada saat roda diputar dengan arah berlawanan Untuk memutarkan kedua roda belakang dengan arah yang berlawanan, terlebih dahulu kedua buah roda beserta differensial-nya harus dalam posisi bebas, yaitu dengan cara diangkat atau didongkrak lebih dulu. Bila roda kanan diputar kedepan, maka side gear kanan berputar searah putaran roda kanan, sedangkan pada saat yang sama roda kiri diputar kebelakang, maka side gear bagian kiri berputar searah putaran roda bagian kiri. Pada saat kedua roda diputar, maka tiap differensial pinion berputar melalui shaft-nya masing-masing dan juga bergerak mengelilingi axle belakang. Putaran dari differensial pinion (differensial carier) keduanya berlawanan arah, ring gear tidak ikut berputar, sedangkan differensial case ikut berputar mengelilingi axle belakang. 0A 0B Jarak A < Jarak B Rpm Roda Bagian Dalam < Rpm Roda Bagian Luar A B 0 24 F. Analisis Gangguan Gangguan pada differensial biasanya ditandai dengan terdengarnya suara pada bagian belakang kendaraan, akan tetapi harus diperhatikan bahwa dalam menganalisa terkadang suara-suara yang lain sering mengganggu dalam menentukan analisa yang tepat. Tetapi bila sering mendengar suara yang timbul diakibatkan oleh differensial maka hal tersebut akan mempercepat dalam menentukan penyebab suara yang timbul pada differensial. Suara yang timbul akibat kerusakan differensial dapat terdengar jelas disaat kendaraan berjalan dengan kondisi kaca tertutup semua. Suara gangguan pada differensial dapat dibedakan dalam beberapa macam gerakan antara lain yaitu : a. Bunyi pada saat kendaraan berjalan lurus. b. Bunyi pada saat kendaraan berbelok. c. Bunyi pada saat kendaraan akselerasi ataupun deakselerasi. Penyebab semua itu biasanya terjadi akibat komponen-komponen yang telah mengalami kerusakan yaitu : ring gear, drive pinion, side gear, pinion gear dan pinion shaft gear. 1. Ring Gear Ring gear terletak pada differensial case, sedangkan ring gear sendiri diputar oleh drive pinion. Daya pemindah yang baik adalah bila digerakan dari drive pinion dapat dipindahkan ke differensial case oleh ring gear tanpa ada halangan apa-apa dan juga tidak timbul hentakan atau suara. Apabila ring gear mengalami kerusakan, giginya patah atau runoutnya besar maka akan timbul suara pada ring gear disaat daya mulai dipindahkan. 25 Runout gear akan menyebabkan terjadinya gesekan yang tidak normal pada perkaitan gigi antara ring gear dengan drive pinion. Gesekan yang tidak normal akan mengakibatkan keausan dan akan menyebabkan jarak kebesaran antara ring gear dengan drive pinion (back lash) menjadi besar dan akan menimbulkan suara disaat kendaraan berjalan. Kerusakan ring gear karena run out besar atau gigi rusak lebih terasa saat kendaraan baru mulai berjalan atau kendaraan baru melakukan akselerasi atau deakselerasi dan disaat kendaraan berjalan lurus. 2. Drive Pinion Drive pinion berfungsi untuk meneruskan gaya putar dari propeller shaft menuju ke ring gear. Perkaitan antara drive pinion dengan ring gear akan menghasilkan perbandingan gigi dari differensial dan akan mempengaruhi besar kecilnya permukaan gesek, dimana permukaan gesek tersebut menentukan besar kecilnya luas bidang yang menjadi bidang kerja. Apabila perkaitan tidak baik atau telah terjadi keausan pada gigi drive pinion maka ketika kendaraan sedang berjalan akan menimbulkan suara pada differensial dan suara tersebut akan lebih terasa disaat kendaraan berjalan pada jalan yang lurus. Perkaitan antara drive pinion dengan ring gear tidak boleh terlalu rapat dan tidak boleh terlalu renggang dan untuk mendapatkan jarak yang tepat maka perkaitan antara ring gear dengan drive pinion harus disetel dengan tepat. a. Penyetelan ring gear dengan drive pinion menggunakan feeler gauge. 1. Gerakan drive pinion kedepan kearah pusat ring gear. 26 2. Ukurlah ring gear dengan drive pinion menggunakan feeler gauge 3. Bila drive pinion (back lash) terlalu rapat atau renggang maka kurangi atau tambahkan shimpas drive pinion untuk memperkecil gerakan drive pinion kedepan atau kebelakang. b. Penyetelan ring gear dengan drive pinion menurut hubungan tapak gigi 1. Oleskan cat warna pada gigi-gigi ring gear. 2. Gerakan ring gear sehingga drive pinion bersentuhan dengan ring gear. 3. Periksa hubungan gigi dari tapak gigi yang terlihat pada ring gear. 4. Hubungan yang baik bila tapak gigi terletak ditengah-tengah bidang ring gear. 5. Tapak gigi yang tidak tepat dapat disetel dengan mengatur kedudukan ring gear dan drive pinion. Gambar 13. Hubungan Drive Pinion Dengan Ring Gear Yang Baik c. Jika tapak gigi terdapat pada ujung gigi akan menyebabkan keuasan dan suara. Cara memperbaikinya adalah sebagai berikut : 1. Geserkan drive pinion kearah pusat ring gear dengan memasang sebuah shim dibelakang drive pinion. 2. Setel kembali drive pinion (back lash) gigi. 27 Gambar 14. Hubungan Gigi Berada Diujung Gigi d. Jika tapak gigi terdapat disepanjang alas tetapi tipis maka akan menyebabkan gigi cepat aus dan bunyi. Cara memperbaikinya adalah sebagai berikut :d. 1. Putar drive pinion keluar dari pusat ring gear dengan menggunakan shim yang lebih tipis dibelakang drive pinion. 2. Setel kembali drive pinion (back lash). Gambar 15. Hubungan Gigi Berada Pada Alas Gigi e. Jika tapak gigi terdapat pada bagian ujung dalam ring gear maka hal ini akan menyebabkan ujung gigi dapat tersayat dan rusak. Cara memperbaikinya adalah sebagai berikut : 28 1. Putar/setel ring gear menjauhi drive pinion sehingga akan menambah drive pinion (back lash) gigi melebihi 0,254. 2. Sisipkan shim yang lebih tebal dibelakang drive pinion yang dapat digunakan untuk menggeser drive pinion menuju ring gear dan membuat drive pinion (back lash) gigi menurut spesifikasi 0,1524 mm-0,254 mm. Gambar 16. Hubungan Gigi Berada Didalam Ring f. Jika tapak gigi berada pada ujung luar gigi, maka hal ini akan menyebabkan ujung gigi pecah atau cepat aus yang berlebihan. Cara memperbaikinya adalah sebagai berikut :f. 1. Putar ring gear kedalam mendekati drive pinion sehingga akan mengurangi kebebasan gigi. 2. Sisipkan shim tipis dibelakang drive pinion sehingga drive pinion akan menjauhi ring gear dan membuat drive pinion (back lash) gigi diantara spesifikasi 0,006’’-0,001’’ (0,1254 mm-0,0254 mm). 29 Gambar 17. Hubungan Gigi Pada Ujung Luar Gigi 3. Side Gear Pada saat jalan lurus kedua buah side gear menerima gaya yang sama, tetapi ketika kendaraan berbelok maka akan terdapat perbedaan putaran antara side gear kiri dan side gear kanan. Gangguan yang timbul bila terjadi keausan pada side gear disebabkan oleh bagian gigi yang aus atau celah yang dibentuk dengan pinion gear menjadi besar sehingga bila roda penggerak berputar maka akan menimbulkan suara pada differensial. Suara tersebut akan makin jelas terdengar apabila kendaraan sedang berbelok dan makin keras ketika side gear berputar lebih cepat. a. Gangguan yang timbul pada side gear akibat keausan gigi atau celah yang dibentuk oleh pinion gear. Adapun untuk memperbaiki hal tersebut adalah sebagai berikut : 1. Periksa bidang sentuh bantalan samping differensial case. 2. Apakah dudukan bantalan tergores atau tidak. 3. Bidang cincin tekan didalam differensial case harus halus dan bebas dari keasaman. 30 4. Ganti bantalan samping dengan yang baru (bila perlu) dan lumasi bidang sentuh differensial case. 5. Bila digunakan bantalan samping yang baru maka harus menggunakan kerucut yang baru. 6. Lumasi differensial case, pinion gear dan side gear. 7. Pasang side gear dan cincin pada dudukannya didalam differensial case. 8. Putar pinion gear sekeliling side gear sehingga segaris dengan lubang poros. 9. Sisipkan blok spasi poros pinion dan pena pengunci. 10. Ukur jarak kebebasan antara side gear dan cincin. G. Pemeliharaan Differensial Yang perlu dilakukan dalam pemeliharaan differensial adalah pemberian minyak pelumas yang tepat waktu dan sesuai pada differensial. Minyak pelumas yang dipakai juga harus memperhatikan konstruksi dari gigi-gigi differensial. 1. Syarat-syarat Minyak Pelumas Differensial a. Kekentalan yang sesuai Minyak pelumas differensial mempunyai tingkat kekentalan yang tinggi untuk mencegah kerusakan pada roda gigi dan bantalan, bunyi dan kebocoran minyak pelumas. Kekentalan minyak pelumas cenderung bertambah ketika temperatur turun dan sifat fluidanya menjadi lemah. Minyak pelumas yang kekentalannya hanya merubah sedikit bila terjadi perubahan temperatur adalah yang sangat diperlukan. Oleh sebab itu minyak pelumas differensial harus mempunyai kekentalan yang sesuai, yaitu SAE 90. 31 b. Mempunyai kemampuan memikul beban Ketika gigi berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya, maka tekanan dan goncangan yang timbul lebih besar. Fungsi yang utama dari minyak pelumas yang sangat penting adalah untuk membantu mengaitkan beban disaat roda gigi bersinggungan dan mencegah panas dari pemakaian roda gigi dan bantalan. c. Tahan panas dan oksidasi Saat keadaan minyak pelumas memburuk karena panas atau oksidasi, maka kotoran yang ada akan membentuk suatu zat asam yang menyebabkan perubahan kekentalan minyak menjadi kental sekali. Endapan kotoran tersebut menyebabkan tidak sempurnanya pelumas pada bantalan, dan endapan kotoran yang mengeras dapat merusak komponen differensial karena bersinggungan dengan permukaan gigi. Tingginya suatu kekentalan oleh kotoran-kotoran tersebut sehingga kemampuan pendinginannya berkurang dan tahanannya bertambah. Selain itu kadar asam yang terbentuk menyebabkan timbulnya karat, maka minyak differensial harus mempunyai kemampuan tahan panas dan oksidasi. 2. Klasifikasi Kekentalan Minyak pelumas differensial diklasifikasikan khusus untuk kekentalan dan kemampuan dalam menahan beban. Adapun angka kekentalan minyak pelumas differensial adalah SAE 90. 32 3. Klasifikasi Kualitas dan Penggunaannya Penggunaan minyak pelumas differensial diklasifikasikan menurut tipe gigi yang dipakai. Dibawah ini adalah tabel klasifikasi kualitas dan penggunaan minyak pelumas menurut API (American Petroleum Institute) Tabel 3. Klasifikasi kualitas penggunaan oli No Klasifikasi API Pengunaan dan kualitas 1. GL 1 Mineral oli murni untuk roda gigi dan jarang dipakai mobil. 2. GL 2 Untuk warm gear, mengandung minyak hewani dan nabati. 3. GL 3 Untuk manual transmisi dan stering gear, mengandung bahan tambah extreme pressure resisting dan lain-lain, 4. GL 4 Untuk hypoid gear dan digunakan untuk melayani klasifikasi diatas GL 3, mengandung bahan tambah extreme pressure resisting tapi lebih besar jumlahnya dibanding GL 3. 5. GL 5 Digunakan untuk hypoid gear dengan pelayanan lebih sedikit dari kondisi GL 4, kandungan extreme pressure resisting lebih besar dibandingkan GL 4 dan kondisi kerja lebih berat karena untuk menahan beban kejutan yang lebih besar dan menerima kecepatan luncur yang tingi. GL = Gear Lubricant ( pelumas roda gigi) 33 Pada kendaraan yang menggunakan differensial dengan tipe gigi hypoid bevel, maka minyak pelumas yang digunakan mempunyai klasifikasi API GL 5. 4. Pemeriksaan dan Penggantian Minyak Pelumas Pengisian minyak pelumas differensial harus sampai dengan batas permukaan yang ditentukan yaitu apabila minyak pelumas telah keluar dari lubang pengisian, maka pemeriksaan minyak pelumas differensial dilakukan bila kendaraan telah menempuh jarak 1500 km, bila ternyata permukaan minyak pelumas turun/kurang maka pengisian minyak pelumas harus ditambah sampai dengan batas pengisian minyak pelumas yang baru dan diganti setelah kendaran berjalan menempuh jarak 7500 km. 34 BAB III PENUTUP A. Simpulan Dari uraian differensial (gardan) diatas, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut : 1. Dalam konstruksi suatu differensial yang merupakan faktor terpenting adalah perkaitan antara drive pinion dengan ring gear, yang dimana perkaitan tersebut dinamakan bevel gear. 2. Cara kerja differensial menurut fungsinya dibagi 4 bagian, yaitu : a. Differensial pada saat mengurangi kecepatan Dalam hal ini putaran poros propeller direduksi oleh ring gear yang jumlah giginya lebih banyak dari drive pinion, sehingga putaran porosporos roda belakang kecepatannya menjadi kecil. b. Differensial pada saat berjalan lurus Dalam hal ini drive pinion hanya berfungsi sebagai penghubung side gear kanan dan side gear kiri, sehingga kedua side gear berputar dalam satu unit dengan putaran drive pinion, yang menyebabkan kedua poros roda berputar pada kecepatan yang sama. c. Differensial pada saat berbelok Pada saat kendaraan berbelok kondisi pada salah satu side gear tertahan, dan drive pinion berputar melalui shaf-tnya masing-masing serta bergerak melalui shaft belakang, hal tersebut mengakibatkan putaran pada salah satu side gear bertambah cepat. Pada saat kendaraan berbelok, maka ban yang berada pada bagian dalam, putarannya lebih lambat dari pada ban yang berada diluar. d. Differensial pada saat roda diputar dengan arah berlawanan Untuk memutarkan kedua roda belakang dengan arah yang berlawanan, terlebih dahulu kedua buah roda beserta differensial-nya harus dalam posisi bebas, yaitu dengan cara diangkat atau didongkrak lebih dulu. Bila roda kanan diputar kedepan, maka side gear kanan berputar searah putaran roda kanan, sedangkan pada saat yang sama roda kiri diputar kebelakang, maka side gear bagian kiri berputar searah putaran roda bagian kiri. 3. Dalam menganalisis gangguan pada differensial, suara yang timbul dapat terdengar jelas pada saat kendaraan berajalan dengan kaca tertutup. Suara differensial dapat dibedakan 3 bagian, yaitu : a. Bunyi pada saat kendaraan berjalan lurus. b. Bunyi pada saat kendaraan berbelok. c. Bunyi pada saat kendaraan akselerasi ataupun deakselerasi. 4. Penyebab sering terjadinya gangguan pada differensial disebabkan oleh komponen-komponen differensial yang telah mengalami kerusakan, diantaranya yaitu : ring gear, drive pinion, side gear dan pinion shaft gear. 5. Didalam pemeliharaan differensial yang perlu diperhatikan adalah pemberian minyak pelumas yang tepat dan sesuai dengan konsruksi dari gigi-gigi differensial. B. Saran 1. Gigi hypoid bevel gear mempunyai kecepatan gelincir yang kuat, maka gunakanlah pelumas oli hypoid gear yang mempunyai viskositas yang cukup kekentalannya untuk membentuk lapisan minyak (oil film) dan mencegah kontak langsung antara metal. 2. Jangan sampai terlambat dalam pemberian/penggantian minyak pelumas dalam differensial, sebab hal tersebut bisa mengakibatkan singgungan gigi yang keras dan akibatnya gigi akan aus serta posisi drive pinion dan ring gear akan berubah. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1991. Training Manual New Step 1, Jakarta : PT. Toyota Astra Motor. . 1995. Materi Pelajaran Chasis Step 2, Jakarta : PT. Toyota Astra Motor. Boentarto. 1997. Dasar-dasar Auto Mobil, Jakarta : PT. Toyota Astra Motor. Daryanto. 1995. Teknik Servis Mobil, Jakarta : PT. Rineka Cipta. Lampiran 1. Foto Prototipe Power Train. Prototipe Power Train Tampak Samping Prototipe Power Train Tampak Depan Prototipe Power Train Tampak Belakang Prototipe Differensial dengan Gardan Dibelah Selengkapnya...
-Cara-cara menangani limbah dideskripsikan sesuai dengan sifat dan wujud limbahnya
-Cara membuat kompos dari limbah alami dideskripsikan sesuai dengan prosedur pembutannya
-Cara membuat kertas daur ulang dideskripsikan sesuai dengan prosedur pembutannya
-Model penanganan limbah berdasarkan hasil studi di industri dideskripsikan sesuai dengan hasil kunjungan industri yang memiliki instalasi pengolahan limbah.
-Karya ilmiah tentang cara penanganan limbah melalui pengkajian literatur dan kunjungan ke industri yang memiliki instalasi pengolahan limbah dibuat sesuai dengan aturan penyusunan karya ilmiah
Cara-Cara Penanganan Limbah :
·Model Penanganan Limbah
·Pembuatan Kompos
·Pembuatan Kertas Daur Ulang
-Mendiskusikan cara-cara menangani limbah
-Melakukan studi literatur untuk mencari cara membuat kompos dan kertas daur ulang.
-Praktik membuat kompos dari limbah alami.
-Praktik membuat kertas daur ulang.
-Membuat model penanganan limbah berdasarkan hasil studi di industri.
-Diskusi dan informasi tentang pembuatan kompos, pembuatan kertas daur ulang, dan model penangananlimbah
-Membuat karya ilmiah tentang cara penanganan limbah melalui pengkajian literatur dan kunjungan ke industri yang memiliki instalasi pengolahan limbah.
-Tes Tertulis
-Tugas
-Penilaian proses.
2
28
(56)
10
(40)
-Buku Refrensi atau Media Lain yang Relevan
-Lingkungan Kerja
Keterangan:
TM: Tatap Muka
PS: Praktik di Sekolah (2 jam praktIk di sekolah setara dengan 1 jam tatap muka)
PI: Praktek di Industri (4 jam praktIk di Du/Di setara dengan 1 jam tatap muka)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah:SMKMUTIARA
Mata Pelajaran:Ilmu Pengetahuan Alam (IPA)
Kelas/Semester:10 / 1
Alokasi Waktu:4 jam pelajaran @ 45 menit (180 menit)
Standar Kompetensi:Memahami polusi dan dampaknya pada manusia dan lingkungannya
Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi jenis limbah
I.INDIKATOR
Pertemuan 1
vPengertian limbah dijelaskan dengan benar
vJenis-jenis limbah diidentifikasi berdasarkan jenis senyawanya
vJenis-jenis limbah diidentifikasi berdasarkan wujudnya
vJenis-jenis limbah diidentifikasi berdasarkan sumbernya
Pertemuan 2
vJenis limbah yang dapat dimanfaatkan diidentifikasi berdasarkan proses daur ulang
vJenis limbah yang dapat dimanfaatkan diidentifikasi berdasarkan proses tanpa daur ulang
vJenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah diidentifikasi berdasarkan proses daur ulang
vJenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah diidentifikasi berdasarkan proses tanpa daur ulang
II.TUJUAN PEMBELAJARAN
Tujuan pembelajaran pada mata pelajaran ini adalah peserta didik dapat mengidentifikasi jenis limbah
Pertemuan 1
Setelah pembelajaran selesai, siswa dapat :
vMenjelaskan pengertian limbah dengan benar
vMengidentifikasi jenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawanya
vMengidentifikasi jenis-jenis limbah berdasarkan wujudnya
vMengidentifikasi jenis-jenis limbah berdasarkan sumbernya
Pertemuan 2
vMengidentifikasi jenis limbah yang dapat dimanfaatkan berdasarkan proses daur ulang
vMengidentifikasi jenis limbah yang dapat dimanfaatkan berdasarkan proses tanpa daur ulang
vMengidentifikasi jenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah berdasarkan proses daur ulang
vMengidentifikasi jenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah berdasarkan proses tanpa daur ulang
III.MATERI AJAR
Limbah dan jenisnya :
vPengertian Limbah
vJenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawa, wujud dan sumbernya
vJenis limbah yang dapat dimanfaatkan dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
vJenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
IV.METODE PEMBELAJARAN
vCeramah
vTanya Jawab
vKerja kelompok
vDiskusi
vPresentasi
V.KEGIATANPEMBELAJARAN
Pertemuan I
a.Kegiatan Awal (15’)
vBerdoa dengan tujuan penanaman pembiasaan pada diri peserta didik bahwa pengembangan diri hendaknya selaras antara imtaq dan iptek
vGuru mengadakan tanya jawab tentang kondisi lingkungan yang ada di sekitar kita, kota dan negara Indonesia
vGuru menjelaskan topik, tujuan & manfaat kompetensi yang akan dipelajari, strategi pembelajaran serta cara penilaian yang akan dilakukan terkait dengan kompetensi yang dipelajari
vGuru mengadakan pre test tentang limbah dan jenisnya
b.Kegiatan Inti (55’)
vGuru menjelaskan definisi limbah
vPeserta didik dibagi menjadi 6 kelompok
vGuru membagi lembar diskusi untuk masing-masing kelompok
vSecara berkelompok @ 6 orang peserta didik mengidentifikasi jenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawa, wujud dansumbernya
vMasing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya tentang identifikasi jenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawa, wujud dansumbernya
vGuru melakukan klarifikasi hasil diskusi tentang jenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawa, wujud dansumbernya
c.Kegiatan Akhir (20’)
vPeserta didik bersama guru membuat kesimpulan tentang jenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawa, wujud dansumbernya
vPeserta didik mengerjakan tes formatif
vPeserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran
vPembelajaran ditutup dengan doa
Pertemuan 2
a.Kegiatan Awal (10’)
vBerdoa dengan tujuan penanaman pembiasaan pada diri siswa bahwa pengembangan diri hendaknya selaras antara imtaq dan iptek
vGuru mengadakan tanya jawab tentang jenis-jenis limbah berdasarkan jenis senyawa, wujud dansumbernya
vGuru menjelaskan topik, tujuan & manfaat kompetensi yang akan dipelajari, strategi pembelajaran serta cara penilaian yang akan dilakukan terkait dengan kompetensi yang dipelajari
b.Kegiatan Inti (60’)
vGuru menjelaskan jenis-jenis limbah
vPeserta didik dibagi menjadi 6 kelompok
vGuru membagi lembar diskusi untuk masing-masing kelompok
vMasing-masing kelompok @ 6 orang peserta didik melakukan observasi terhadap kegiatan yang ada disekolah (termasuk bengkel), kemudian mengidentifikasi:
1.Jenis limbah yang dapat dimanfaatkan dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
2.Jenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
vMasing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusinya tentang:
a.Jenis limbah yang dapat dimanfaatkan dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
b.Jenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
vGuru melakukan klarifikasi hasil diskusi tentang jenis limbah yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang serta jenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
c.Kegiatan Akhir (20’)
vPeserta didik bersama guru membuat kesimpulan tentang jenis limbah yang dapat dimanfaatkan dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang serta jenis barang yang berasal dari pemanfaatan limbah dengan proses daur ulang dan tanpa daur ulang
vPeserta didik mengerjakan tes formatif
vPeserta didik melakukan refleksi terhadap kegiatan pembelajaran
vPembelajaran ditutup dengan doa
VI.ALAT, BAHAN DAN SUMBER BELAJAR
vLembar diskusi
vSoal post test beserta perangkat penilaiannya
vModul/bahan referensi
vLembar diskusi
vSekolah (bengkel) sebagai sumber belajar
VII. Penilaian
vTes teori (tertulis) bentuk essay
vTugas berupa hasil diskusi kelompok
Sebutkan jenis-jenis limbah berdasarkan sumbernya
Sebutkan limbah yang dapat didaur ulang dan tidak dapat didaur ulang yang ada disekitar kalian?